Home > Makalah, Umum > Mimpi Perdamaian PBB

Mimpi Perdamaian PBB

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Perang sebagai bagian dari kehidupan tidak pernah hilang sejak dimulainya kehidupan komunal manusia. Berbagai alasan digunakan oleh berbagai bangsa dan negara untuk mensahkan atau memulai perang. Dan dengan bermacam-macam alasan pula manusia berusaha untuk menghentikan perang tersebut. Mulai dari cara yang diplomatis sampai pada cara yang keras sekalipun, yaitu menghentikan perang dengan perang.

Salah satu upaya diplomatis yang dilakukan oleh berbagai negara untuk menhentikan perang (menciptakan perdamaian) tersebut adalah dengan membentuk organisasi dunia yang dikenal dengan Liga Bangsa-Bangsa.[1] Namun upaya ini gagal menyusul pecahnya perang dunia II pada tahun 1939 sampai 1945.[2] Tidak mau berhenti disana, para pemimpin dunia yang cinta akan kedamaian berusaha kembali mendirikan organisasi dengan konsep yang sama (menciptakan/ mempertahankan perdamaian dunia) dengan nama United Nation (PBB) tahun 1945.[3]

Setelah terbentuknya PBB, dunia internasional berusaha merumuskan berbagai peraturan (Piagam PBB) untuk mendukung terciptanya perdamaian, jauh dari perang yang menghancurkan kehidupan manusia.[4] Namun uapaya-upaya tersebut kurang membuahkan hasil, karena perang tetap saja terjadi di berbagai wilayah. Di Timur Tengah misalnya, terjadi perang yang cukup besar antara Arab-Israel serta perang teluk, Perang AS-Afganistan, dan Perang Vietnam, sedangkan di Afrika perang saudara terus berkecamuk tanpa ada harapan untuk berdamai. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk membuat makalah tentang keterbatasan PBB dalam menciptakan perdamain.

PERMASALAHAN

Dilihat dari tulisan diatas, maka muncul satu permasalahan penting yang harus dibahas dalam makalah ini yaitu, faktor-faktor apa yang menghalangi PBB untuk menciptakan perdamaian?[5]

KERANGKA TEORI

Untuk melakukan hubungan dengan negara lain, baik itu hubungan positif maupun hubungan negatif maka setiap negara selalu memanfaatkan politik luar negerinya. politik luar negeri itu sendiri merupakan perangkat yang digunakan untuk mempertahankan dan mengamankan kepentingan nasional negaranya dalam percaturan politik internasional.[6] Namun di dalam cara pengamanan kepentingan nasional tersebut beberapa negara juga memiliki pemikiran yang berbeda dalam penerapannya, diantaranya ada yang menerapkan politik luar negeri dengan pendekatan realis dan sebagian lagi menggunakan pendekatan idealis.

Negara-negara yang menggunakan pendekatan realis ini mendasarkan pandangan mereka pada relitas, apa yang ada, dan bukan pada apa yang seharusnya.[7] Kaum realis ini juga memiliki pandangan bahwa, “politik yang harus mengikuti moral luhur dan prinsip-prinsip hukum” dianggap tidak akan membawa hasil yang cepat dan memuaskan.[8] Oleh karena itu, kaum realis ini kadang-kadang sulit untuk diajak berdialog dalam menyelesaikan suatu permasalahan atau konflik.

Berbeda lagi halnya dengan negara-negara yang menggunakan pendekatan realis, bagi kaum idealis, politik domestik dan internasional seharusnya meninggalkan penggunaan kekerasan, yaitu dengan cara mendorong penggunaan akal sehat serta membantu ke-eksistensian masyarakat internasional dibawah para pemimpin yang bijak.[9] untuk itu kelompok ini selalu berupaya menciptakan suasana damai dengan cara melakukan kerjasama yang baik antar negara. Makanya kaum idealis ini lebih mengutamakan diplomasi dalam pemecahan masalah/konflik, serta menggunakan organisasi internasional sebagai media penyelesaiannya.

PEMBAHASAN

Konflik, pertikaian atau dalam skala yang lebih besar, perang, adalah suatu bentuk ancaman dalam menciptakan dan atau mempertahankan perdamaian. PBB sebagai organisasi internasional sadar akan ancaman tersebut, oleh karena itu PBB mencari serta merumuskan strategi untuk mencegah hal tersebut untuk tidak berulang kembali atau semakin melebar (semakin meningkat).[10] Beberapa strategi itu adalah diplomasi pencegahan, penempatan preventif dan perlucutan-senjata preventif.[11]

Penciptaan perdamaian ini merujuk pada penggunaan cara-cara diplomatik yang berusaha mengajak negara-negara yang bertikai untuk supaya menghentikan permusuhan serta melakukan negosiasi untuk mencapai penyelesaian damai pertikaian antar mereka.[12] Untuk itu PBB juga menyediakan berbagai sarana untuk menghentikan dan menyelesaikan pertikaian tersebut. Namun di dalam pelaksanaannya PBB mengalami berbagai keterbatasan dan hambatan, hal ini sudah dapat diprediksi oleh PBB sebelumnya, terbukti dengan adanya wewenang PBB untuk menjatuhkan sanksi dan mensahkan tindakan militer demi menciptakan perdamain.[13]

Menurut Penulis ada beberapa faktor yang menjadi penghambat bagi PBB dalam mempertahankan dan menciptakan perdamaian, diantaranya adalah:

  • Kedaulatan Negara

Seperti yang kita ketahui bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan negara, bukan pada organisai regional maupun organisasi internasional seperti PBB.[14] Walaupun di dalam badan PBB setiap anggota harus mematuhi semua peraturan yang diputuskan oleh PBB, tetap saja hal tersebut tidak akan menghapus prinsip kedaulatan, terutama yang menyangkut urusan dalam negeri.[15] biasanya negara anggota hanya mau mengikuti peraturan  selama benar-benar tidak mengancam kepentingan nasionalnya. Andaikata kepentingan nasional negara yang bertikai merasa terancam jika mematuhi peraturan PBB maka bisa saja secara mendadak mereka mencabut keanggotaannya di PBB. Dampaknya  negara itu tentu tidak terikat lagi dengan badan tersebut, dan mereka juga tidak mempunyai kewajiban untuk mematuhi peraturan yang dibuat oleh PBB.[16]

  • Pembenaran Perang

Pembenaran perang yang Penulis maksud disini sangat erat kaitannya dengan kedaulatan negara, terutama sekali untuk menjaga dan menyelamatkan kepentingan nasionalnya. Negara-negara yang memiliki keyakinan kuat tentang pembenaran perang ini lah yang masuk dalam pendekatan realis. Karena mereka ini lebih percaya pada kemampuan politik yang bersifat memaksa/ menggunakan kekerasan.

Negara-negara realis tersebut memilih perang sebagai salah satu jalan keluar untuk menyelesaikan pertikaian atau konflik yang tidak kunjung selesai. Sikap apatis mereka terhadap soft diplomacy telah mendorong mereka untuk menciptakan perdamaian melalui perang. Rasa percaya diri mereka tentang kekuatan dialog yang diusung oleh negara-negara idealis untuk menyelesaikan konflik tidak akan membawa hasil yang maksimal, kalaupun berhasil mungkin hanya untuk sesaat.

  • Arogansi Negara Super Power

Ketika terdapat satu negara super power dimana negara-negara mayoritas lainnya berada dalam hegemony negara tersebut, maka menurut penulis organisasi dunia seperti PBB pun tidak akan berkutik jika negara super power tersebut melakukan kegiatan yang mengancam perdamaian. Karena negara tersebut dengan mudah mampu mencari dukungan dari sebagian negara anggota lainnya untuk membenarkan kekerasan terhadap negara yang menjadi musuhnya.

  • Hak Veto PBB

Hak veto yang dimiliki oleh lima negara anggota tetap dewan keamanan[17] sebenarnya dapat memberikan kontribusi  yang besar untuk menghentikan perang. Namun hak veto juga dapat disalah gunakan, maksudnya jika terjadi konflik antar negara dan kemudian  PBB melihat hal tersebut sebagai salah satu ancaman bagi perdamaian, maka  PBB tidak akan dapat berbuat apa-apa jika salah satu anggota tetap menggunakan hak veto untuk menolak campur tangan PBB. Penyebab penggunaan hak veto ini bisa bermacam-macam, misalnya karena kepentingan politik, kepentingan ekonomi dan atau kepentingan nasional lainnya.

Contoh kasus yang menarik tentang penyalahgunaan hak veto ini adalah yang sering dilakukan oleh Amerika Serikat untuk melindungi Israel dari berbagai kecaman dan sanksi yang dikeluarkan oleh PBB.[18] Rata-rata keputusan PBB tersebut berisi tentang kecaman atas tindakan Israel yang sewenang-wenang terhadap bangsa palestina dan bangsa disekitarnya (seperti Lebanon dan Syria), seperti penyerangan secara militer, pembantaian dan pelanggaran hak azasi manusia.[19] Namun upaya penciptaan perdamaian yang dilakukan oleh PBB tersebut terhalang oleh hak veto yang digunakan oleh AS.[20]

Keempat faktor itu lah yang menjadi penghambat bagi PBB dalam menciptakan perdamaian. Walaupun masih banyak faktor-faktor lainnya Penulis merasa faktor-faktor diatas sudah cukup mewakili faktor-faktor lainnya.

Perdamaian adalah impian bagi semua pihak, baik itu dari individu, golongan, kelompok, maupun negara. Tapi karena perbedaan kebutuhan, kepentingan dan perbedaan cara pandang dalam mengatasi masalah antara satu pihak (negara) dengan pihak lainnya perang tidak dapat dihindarkan. Tampaknya perang sudah mejadi bagian dari kehidupan manusia di bumi ini.

KESIMPULAN

PBB merupakan kumpulan negara-negara dari berbagai golongan (yang pro pendekatan realis maupun idealis) yang  bercita-cita untuk menciptakan dan mempertahankan perdamaian dunia. Namun di dalam pelaksanaannya PBB mengalami berbagai hambatan, terutama sekali oleh faktor kedaulatan negara, anggapan bahwa perang dapat dibenarkan (dengan berbagai alasan), adanya sikap arogansi negara super power dan penyalahgunaan hak veto oleh negara anggota DK PBB. Dan jika dianalisa lebih lanjut maka dapat diketahui keempat faktor tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor kedaulatan atau kepentingan nasional.

Selain itu, adanya keterbatasan-keterbatasan tersebut menandakan ketidak mampuan PBB untuk menciptakan perdamaian seperti yang diharapkan para pendirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Ayu, Rindu.  2006. Politik Luar Negeri. Jakarta: Program Studi Hubungan Internasional.

Barash, David P, and Charles P. Webel. 2002. Peace and Conflict Studies. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publlications.

Findley, Paul. 2006. Diplomasi Munafik Zionis Israel, Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel. Jakarta: Mizan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pengetahuan Dasar Tentang Perserikatan-Bangsa-Bangsa. Perserikatan Bangsa-Bangsa.

. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sya’roni. 1989. Politik Internasional Dewasa Ini. Surabaya: Usaha Nasional.

Website:

http://www.un.org/aboutun/unhistory/. (Diambil: Rabu, 05 November 2008, Pukul 17:05)

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II. (Diambil: Rabu, 05 November 2008, Pukul 17:05)


[1] Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pengetahuan Dasar Tentang Perserikatan-Bangsa-Bangsa, (Tanpa keterangan kota penerbit: Perserikatan Bangsa-Bangsa, tanpa tahun Terbit), hal. 3.

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II (Diambil: Rabu, 05 November 2008, Pukul 17:05)

[3] Perserikatan Bangsa-bangsa, Op. Cit., hal. 5., David P. Barash, and Charles P. Webel, Peace and Conflict Studies, (Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publlications, 2002), Hal. 349-350., dan dari http://www.un.org/aboutun/unhistory/, (Diambil: Rabu, 05 November 2008, Pukul 17:05)

[4] David P. Barash, and Charles P. Webel, Ibid., Hal. 344.

[5] Makalah ini menjawab pertanyaan yang ada dalam SAP Studi Perdamaian yang diajarkan oleh dosen Shafiah Fifi Muhibat, yaitu  tentang pertanyaan; Jelaskan Keterbatasan PBB Dalam Penciptaan Perdamaian.

[6] Rindu Ayu, Politik Luar Negeri, (Jakarta: Program Studi Hubungan Internasional, UAI, 2006), hal. 11.

[7] Sya’roni, Politik Internasional Dewasa Ini, (Surabaya: Usaha Nasional, 1989), hal. 90.

[8] Ibid., hal. 91.

[9] Ibid., hal. .94.

[10] Perserikatan Bangsa-Bangsa, Op. Cit., Hal. 77.

[11] Ibid.

[12] Ibid., hal. 79.

[13] Ibid., hal. 85-86.

[14] David P. Barash, and Charles P. Webel, Op. Cit., hal. 187.

[15] Perserikatan Bangsa-bangsa, Op. Cit., hal. 6., dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Perserikatan Bangsa-Bangsa), hal. 8.

[16] Lihat Piagam PBB, isi piagam tersebut mengikat bagi negara anggota, tapi kekuatan mengikat dengan negara bukan anggota sangat lemah (pasal 2 Perserikatan Bangsa-Bangsa), Perserikatan Bangsa-Bangsa, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ibid., hal. 6-8.

[17] Perserikatan Bangsa-bangsa, Op. Cit., hal. 9.

[18] Paul Findley, Diplomasi Munafik Zionis Israel, Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel, (Jakarta: Mizan, 2006), hal. 279-282.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: