Home > Kampung Bahasa Pare > Kampung Bahasa Pare

Kampung Bahasa Pare

Apa itu Kampung Bahasa (Pare)?

Pare yang berada di Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini memang sudah dikenal luas oleh sebagian masyarakat, terutama dari mulut ke mulut tentang keunikannya sebagai tempat tujuan belajar bahasa Inggris yang murah, berkualitas, dan lingkungan yang mendukung. Tidak kurang sekitar 64 tempat kursus tersedia di Pare, terutama sekali di desa Pelem dan Tulungrejo. Kedua desa ini adalah tujuan utama bagi para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum lainnya yang ingin mengasah dan meningkatkan kemampuan bahasa inggrisnya, makanya tidak heran kalau siswa-siswa yang belajar di kampung ini sangatlah beragam dari berbagai wilayah Indonesia. bahkan di tempat kursus yang saya ambil (BEC) siswanya itu berasal dari pulau sumatera sampai dengan pulau Papua, memang kebanyakan berasal dari pulau jawa, tidak terkecuali dari Kota besar seperti Jakarta juga tetap nekad ke kampung ini (termasuk saya sendiri hehe..).

Sebenarnya banyak orang yang masih salah paham mengenai kampung bahasa ini, sebagian orang yang belum pernah ke sana beranggapan bahwa mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Inggris sebagai kata pengantar sehari-hari, padahal tidaklah demikian kenyatannya. Masyarakat di sini malah menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa jawa sebagai pengantar sehari-hari dalam bermasyarakat. Tapi suasana penggunaan bahasa Inggris dalam komunikasi tidak dapat dipungkiri juga, sebagian dari pelajar yang kursus di Pare tetap berusaha menggunakan bahasa Inggris sebagai media komunikasi, tapi hanya sebatas pada orang yang mereka kenali (terutama sekali teman sekelas atau satu tempat kursus), jika mereka belum mengenal seseorang yang mau di ajak berkomunikasi, maka bahasa Inggris tidak akan pernah digunakan.

Jika istilah “kampung bahasa” ini dipaksakan, maka yang lebih cocok sebenarnya adalah istilah “kampung kursus” bahasa Inggris, karena di sini memang tersedia puluhan tempat kursus, dan ini memang terbilang cukup banyak di desa yang kecil ini.

Jumlah keseluruhan pelajar atau pun masyarakat umum yang datang ke Pare ini terbilang cukup banyak, hampir setiap penduduk (khususnya remaja) yang kita temui adalah salah satu siswa kursus yang datang dari berbagai daerah Indonesia. makanya tidak heran kalau kedua desa di Pare ini lebih banyak di dominasi oleh remaja ABG.

 

Kos-kosan atau Camp

Untuk tempat tinggal para siswa kursus, di sini tersedia sangat banyak sekali tempat kosan, secara umum tempat kosan di sini terbagi tiga, yakni kos-kosan biasa, kos-kosan English area, dan Camp/asrama.

Kos-kosan biasa sama layaknya seperti kos-kosan di tempat lain, tidak ada yang istimewa dari kos-kosan ini kecuali harga yang sangat murah, yakni sekitar Rp 40.000 sampai dengan Rp 75.000 per orangnya (biasanya dalam satu kamar ada 3 orang). Kos-kosan ini sangat cocok bagi kita-kita yang memiliki dana pas-pasan. Kos-kosan seperti ini sangat banyak ditemui di sekitar tempat kursus, jadi tidak begitu sulit untuk mencarinya.

Kos-kosan English area adalah kos-kosan yang memiliki keistimewaan tersendiri, kos kosan ini mewajibkan penghuninya untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari, jika menggunakan bahasa selain bahasa Inggris makan akan di denda, tergantung dari kebijakan pemilik dan penghuni kos-kosan.

Sedangkan Camp atau asrama adalah tempat tinggal khusus mirip kos-kosan, namun selain menggunakan bahasa Inggris (ada juga yang bahasa Arab), kos-kosan ini juga memiliki program khusus tersendiri untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris penghuninya. Misalnya saja setiap habis sholat subuh dan sholat magrib, pengelola mewajibkan penghuninya untuk mengikuti program seperti grammar, speaking, ataupun listening. Kadang-kadang antara kos-kosan English area dan Camp agak rancu juga jika dibedakan, karena yang English area ada juga yang menggunakan program tambahan, tampaknya ini harus ditanya langsung pada pengelolanya, apa punya program khusus atau Cuma sekedar English area! Untuk harga sewa kos-kosan Camp memang agak mahal, sekitar Rp 100.000 sampai dengan Rp 150.000.

 

Tempat Kursus

Tempat kursus di kampung ini memang terbilang cukup banyak, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. selain tersedia beberapa puluh tempat kursus, biaya kursus yang murah juga menjadi pilihan yang tepat untuk kursus di sini, bayangkan saja, biaya kursus perbulannya saja ada yang mematok sekitar Rp 45.000 sampai paling mahal sekitar 150.000 (biasanya kalu lebih mahal dari ini adalah kursus sekaligus tempat tinggal atau juga kursus privat). Biaya kursus yang murah bukan berarti murahan, kualitas tempat kursus di sini juga sangat bagus. dari pengalaman saya, dibandingkan dengan tempat kursus yang ada di jakarta, termasuk yang mencapai Rp 500.000 sampai jutaan, ternyata tidak berbeda jauh dengan kualitas yang ada di kampung ini. Perbedaan yang mencolok antara dua type tempat kursus ini hanya pada segi fasilitas dan intensitas pengajaran.

Di kedua desa ini, fasilitas kursus memang tidak mendukung, bayangkan saja untuk belajar di kelas anda tidak akan disediakan meja, yang disediakan hanyalah kursi plastik, bahkan ruangan kelas yang nyaman pun jarang dapat ditemukan. rata-rata ruang kelas yang digunakan hanyalah rumah penduduk biasa yang disulap paksa jadi ruang kelas. Menariknya lagi, ada sebagian tempat kursus yang ruang kelasnya hanya mengandalkan pekarangan rumah beserta tempat duduk panjang dari pohon bambu (tapi tetap saja banyak peminatnya). Bandingkan saja dengan fasilitas kursus di Jakarta yang semua ruangannya full AC, ada kursi meja dan free hotspot.

Fasilitas memang dapat dikatakan kampung ini kalah telak dipukul KO dengan yang di Jakarta, tapi untuk masalah intenstitas, jangan dianggap remeh, dalam seminggu bisa sampai 16 kali pertemuan, senin sampai jum’at, itu belum termasuk kegiatan ekstra (rata-rata normalnya dalam sehari ada 2 kali pertemuan). Untuk kegiatan ekstra biasanya memang ada biaya tambahan, sekitar Rp 30.000 perbulannya, tapi sekali pertemuan saja dalam sehari, senin sampai-kamis. Di tempat kursus saya yang memang sudah cukup terkenal, BEC, jika diambil semua program yang ditawarkan, maka anda bisa masuk kursus jam setengah tujuh dan bisa pulang sampai jam setengah enam sore (waktu istirahat mungkin sekitar 3 jam), dan itu belum termasuk tambahan jam malam hehe…. coba saja bandingkan dengan yang kursus-kursus yang mahal di kota-kota besar itu, paling banyak tiga kali seminggu, dan dua jam sehari. Makanya tidak heran kalau kualitas lulusan di sini tidak dapat diragukan lagi.

 

Kehidupan sehari-hari:

Setelah saya sampai di di Desa Pelem, salah satu yang paling mencolok dalam pandangan saya adalah bahwa masyarakat di sini menggunakan sepeda (kayuh) sebagai alat transportasinya. Sepeda yang digunakan bukanlah sepeda-sepeda keluaran terbaru seperti layaknya pemandangan kota Jakarta, rata-rata sepeda yang digunakan di sini adalah bekas pakai. Mungkin ini disebabkan oleh faktor banyaknya para pendatang yang memubutuhkan alat transportasi yang murah sehingga mereka hanya membutuhkan sepeda bekas yang akan digunakan untuk beberapa bulan saja, selama kursus di daerah ini. Alat transportasi sepeda menjadi pilihan utama karena lebih efektif dan efisien, rata-rata tempat yang sering dikunjungi memang tidak berjauhan tempatnya. Anak-anak remaja juga banyak yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya, pokoknya yang namanya minder menggunakan sepeda tidak ada di sini, bahkan anak ABG yang sering pacaran pun malah menggunakan sepeda (termasuk sepeda ontel yang sudah tua) untuk pergi ngapel atau jalan-jalan.

Karena begitu banyaknya kebutuhan akan sepeda, masyarakat sekitar juga banyak yang membuka usaha bengkel sepeda, penjualan sepeda, dan penyewaan sepeda. Harga sepeda-sepeda seken yang sangat banyak diminati siswa kursus memang terbilang cukup murah. Kita dapat membeli sepeda seken mulai dari harga Rp 75.000 sampai Rp 150.000 untuk kelas sepeda standar, sedangkan untuk menyewa sepeda dihargai sekitar Rp 40.000 sampai Rp 60.000 tiap bulannya. Dan pilihan untuk membeli sepeda tampaknya memang lebih menguntungkan, karena kita dapat menjualnya lagi pada bengkel-bengkel sepeda tersebut dengan harga yang lumayan.

Selain itu, kebiasaan menggunakan sarung di luar rumah juga sudah menjadi hal yang lumrah. Masyarakat sekitar (penduduk asli maupun pendatang) sudah terbiasa dengan pemandangan ini, bahkan tidak hanya untuk sekedar pergi makan atau keliling desa saja, di Kota Kediri saya temui juga, dengan santainya naik kereta api (upss… kereta diesel maksudnya!) menggunakan kain sarung, dan itu tidak sedikit yang saya temui.

Untuk masalah perut, di sini anda akan dimanjakan oleh makanan yang serba murah, atau mungkin sangat murah banget jika dibandingkan dengan Jakarta. Dengan modal uang Rp 2.500 saja kita sudah bisa memesan makanan nasi tempe/tahu + terong + lalapan + air minumnya juga, dan jangan anda bayangkan porsi nasinya sama dengan warung di daerah lainnya, satu porsi di sini sudah sangat banyak, bahkan saya sendiri susah menghabiskannya karena terlalu banyak. Untuk makanan seperti ayam goring beserta sayur saja dijual sekitar Rp 3.500 sampai dengan Rp 5.000, sangat murah bukan?!

  1. eva
    October 5, 2010 at 10:05 pm

    mau nanya,,selain bahasa inggris..ada tempat kursus bahasa mandarin nya ga sih d sana?

    • January 1, 2011 at 2:13 pm

      Eva maaf baru balas (saya jarang buka):
      selain bahasa inggris di Pare juga ada kursus bahasa mandarin, jepang dan bahasa Arab.(kalo gasalah juga ada bahasa prancis).

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: